Kisah Alergi Hidup

Wed 4th Oct, 2006 | Filled in : Reflection |  Comments (0)

Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, “Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati”.

Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit”.

“Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati”.

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, “Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama “Alergi Hidup”. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir
terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita”. …selengkapnya »»


Engkau yang Mana ?

Tue 26th Sep, 2006 | Filled in : Reflection |  Comments (0)

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya. Dia bertanya mengapa hidup ini terasa begitu sukar dan menyakitkan. Dia tidak tahu bagaimana untuk menghadapinya. Dia nyaris menyerah kalah dalam kehidupan. Setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya yang bekerja sebagai tukang masak membawa anaknya itu ke dapur. Dia mengisi tiga buah panci dengan air dan mendidihkannya di atas kompor. Setelah air di dalam ketiga panci tersebut mendidih, dia memasukkan lobak merah ke dalam panci pertama, telur dalam panci kedua, dan serbuk kopi dalam panci terakhir. …selengkapnya »»


Ramadhan Ini…

Sat 23rd Sep, 2006 | Filled in : Reflection, Ramadhan |  Comments (0)

Ramadhan ini,
Tidak kusambut dengan keceriaan makna yang dalam
Tak pernah kunantikan sangat kehadirannya
Bahkan kusambut ia sama dengan aku menyambut bulan lainnya

Ramadhan ini,
Kujalani sama dengan saat aku melewati bulan-bulan lainnya
Padahal Allah telah menjadikan ramadhan lebih baik dari seribu bulan
Ibadah-ibadahku tak mengalami peningkatan
Amal, infaq, dan shodaqohku pun tidak lebih baik

Ramadhan ini,
Mulut ini masih terus bergunjing, berdusta bahkan memfitnah
Tangan-tangan ini tak jua lepas dari keusilan
Langkahku kian berat ke tempat-tempat kebaikan
Hati ini tetap penuh dengan riya’, sum’ah, ujub, sombong, kikir, dengki dan perasaan tidak suka kepada orang lain
Tak kuperdengarkan telingaku, kalimat Allah dari lidahku sendiri
Bahkan kubiarkan seluruh indera ini terlena gemerlapnya hidup

Ramadhan ini,
Hubungan dengan tetangga tak juga kuperbaiki
Silaturahim dengan keluarga pun belum sempat

Ramadhan ini,
Masih seperti tahun-tahun sebelumnya
Siangnya kuhabiskan dengan urusan dunia
Malam-malamnya kubiarkan berlalu tanpa ibadah tambahan
Puasaku pun masih belum lebih baik dari tahun lalu

Ramadhan ini,
Tak kuambil kesempatan tuk mereguk rahmat dari-Nya
Karena tidak kuperbanyak syukurku
Mungkinkah kubiarkan jalan ampunan-Mu berlalu begitu saja
Karena tak juga kubasahi lidahku dengan dzikir mengingat-Mu
Akankah kuhempaskan nikmat pembebasan dari api neraka-Mu
Karena tak kusempurnakan ibadahku
Haruskah kulewati malam-malam akhir ramadhan ini tanpa kenikmatan mendekat-Mu

Usai ramadhan ini,
Mungkinkah aku masih seperti saat sebelum ramadhan ?
Akankah derajat taqwa yang kuraih ?
Akankah aku kembali fitri ?